Database Management

Supabase vs PlanetScale: Edge Database Terbaik 2026

Asep Alazhari

Supabase atau PlanetScale buat project lo? Gue bandingin harga, dukungan edge, branching, dan batas scale setelah pakai Supabase di production sendiri.

Supabase vs PlanetScale: Edge Database Terbaik 2026

Tiap gue mulai side project, tembok pertamanya selalu sama. Datanya mau ditaruh di mana? Beberapa tahun lalu jawaban default gue PlanetScale, soalnya free tier-nya royal dan workflow branching-nya berasa kayak sulap. Terus April 2024 kejadian. PlanetScale ngehapus plan Hobby gratisnya, ngasih deadline migrasi ke semua orang, dan separuh dunia indie dev langsung sibuk cari rumah baru.

Gue pindahin project gue ke Supabase bulan itu juga dan gak pernah balik sepenuhnya. Tapi PlanetScale juga gak diem aja. Mereka ngerilis Metal buat performa NVMe mentah dan mulai ngerol dukungan Postgres, yang dulunya jadi satu-satunya alasan buat nyoret mereka. Jadi di 2026 pertanyaan ini layak dapat jawaban baru. Ini perbandingan jujur gue setelah jalanin Supabase di production buat project sendiri dan ngikutin PlanetScale dari dekat sejak migrasi.

Poin Penting

  • Supabase itu default terbaik buat solo developer dan side project di 2026. Free tier-nya beneran, platformnya udah bundling auth, storage, dan realtime, plus di bawahnya PostgreSQL murni.
  • PlanetScale pilihan yang lebih bener kalau aplikasi lo udah menghasilkan uang dan butuh scale serius. Sharding Vitess, workflow deploy request, dan Metal ngasih plafon lebih tinggi, dengan harga per instance mulai 5 dolar per bulan buat single node.
  • PlanetScale gak punya free tier sejak April 2024. Satu fakta itu doang udah mutusin perbandingan ini buat kebanyakan project hobi.
  • Dua-duanya jalan di edge lewat driver berbasis HTTP, jadi Cloudflare Workers dan Vercel Edge Functions bisa ngobrol sama keduanya tanpa koneksi TCP mentah.

Apa Itu Supabase?

Supabase adalah platform backend open source yang dibangun di sekitar database PostgreSQL utuh. Tiap project dapat instance Postgres beneran plus layanan tambahan di atasnya, termasuk authentication, file storage, realtime subscription, edge functions, dan vector search lewat extension pgvector. Jualannya satu platform daripada lima layanan terpisah, dan sebagian besar janji itu kebukti.

Struktur harganya yang bikin dia jadi tempat ngungsi pasca PlanetScale. Free tier-nya dapat dua project dengan database 500 MB masing-masing, dan plan Pro mulai dari 25 dolar per bulan, menurut halaman pricing Supabase. Buat side project yang mungkin gak bakal pernah menghasilkan satu dolar pun, free tier itu udah cukup jadi alasan.

Apa Itu PlanetScale?

PlanetScale adalah platform database managed yang dibangun di atas Vitess, layer sharding yang dipakai buat nge-scale MySQL di YouTube. Fitur khasnya database branching. Lo bikin branch dari schema kayak branch Git, tes perubahan di sana, terus merge lewat deploy request tanpa downtime. Di 2025 PlanetScale nambahin Metal, yang jalanin database di NVMe lokal buat lonjakan performa gede, dan ngerilis PlanetScale for Postgres, yang sekarang punya deretan tier instance lengkap sendiri.

Masalahnya di biaya. PlanetScale ngehapus free tier Hobby di April 2024 dan gak pernah balikin. Mereka terbuka soal alasannya, cuma mau pelihara workload yang profitable, dan produknya emang jadi lebih cepat dan fokus setelahnya. Sekarang harganya per instance. Menurut halaman pricing PlanetScale, PS-5 single node mulai 5 dolar per bulan, cluster HA 3-node buat production mulai sekitar 15 dolar, dan konfigurasi Metal mulai sekitar 50 dolar.

Supabase vs PlanetScale: Tabel Perbandingan

AspekSupabasePlanetScale
Engine databasePostgreSQLMySQL dengan Vitess, plus Postgres
Free tierAda, 2 project, 500 MB masing-masingGak ada, dihapus April 2024
Plan berbayar termurah25 dolar per bulanMulai 5 dolar per bulan, single node
Bonus bawaanAuth, storage, realtime, edge functions, vectorDatabase doang, gak ada layanan bundling
Workflow schemaMigration, branching di plan berbayarBranching plus deploy request, paling matang
Akses edgesupabase-js lewat HTTP data APIServerless JS driver lewat HTTP
Plafon scalingVertikal plus read replicaSharding horizontal via Vitess
Open sourceYa, bisa self-hostVitess open source, platformnya nggak

Gimana Perbandingan Harganya buat Side Project?

Supabase tetap menang soal biaya buat semua yang kecil. Project hobi di Supabase gratis sampai datanya lewat 500 MB. Project yang sama di PlanetScale mulai 5 dolar per bulan buat single node tanpa high availability, atau sekitar 15 dolar per bulan buat cluster HA 3-node yang bener. Itu 60 sampai 180 dolar setahun buat aplikasi yang mungkin usernya sepuluh orang.

Hitungannya berubah kalau udah jadi bisnis. Begitu lo emang harus bayar, selisih antara Supabase Pro 25 dolar dan cluster HA PlanetScale yang setara itu kecil dibanding nilai waktu lo. Di titik itu keputusannya harusnya soal preferensi engine, workflow, dan scale, bukan harga di stiker.

Setup gue sendiri ngikutin logika ini. Tracking engagement blog ini jalan di project Supabase gratisan, dan udah setahun lebih gak keluar biaya sepeser pun. Eksperimen itu gak bakal ada kalau satu-satunya opsi minta biaya bulanan dari hari pertama.

Also Read: Navicat Premium 16 vs Lite (Gratis): Perbandingan Lengkap & Hemat $800/Tahun

Mana yang Lebih Oke di Edge?

Dua-duanya udah ramah edge di 2026, dan solusi mereka sama. Edge runtime kayak Cloudflare Workers dan Vercel Edge Functions dari dulu gak bisa buka koneksi TCP database mentah, jadi dua platform ini nyediain akses berbasis HTTP.

Supabase ngasih client supabase-js, yang ngobrol ke REST data API auto-generated lewat HTTP. Runtime apa pun yang bisa fetch bisa query database lo. PlanetScale nawarin serverless driver buat JavaScript, yang juga jalan di HTTP dan kelakuannya kayak SQL client biasa. Dari tes gue, dua-duanya nambah beberapa milidetik dibanding koneksi TCP yang di-pool, harga yang wajar buat bisa jalan di mana aja.

Ada satu beda praktis. Di Supabase lo juga bisa connect lewat TCP Postgres standar via pooler Supavisor kalau lagi di server tradisional, pakai port 6543 mode transaction. Fleksibilitas itu penting waktu stack lo separuh edge separuh VPS, dan project gue ujung-ujungnya selalu kayak gitu.

Gimana Soal Schema Change dan Branching?

PlanetScale masih punya workflow schema change terbaik di industri. Deploy request nge-diff branch schema lo, nerapin tanpa ngunci tabel, dan nyimpan jendela revert kalau perubahannya bermasalah. Tim yang ship schema change tiap hari ngerasain keunggulan ini tiap minggu.

Supabase udah nutup sebagian gap lewat fitur branching-nya sendiri, yang bikin preview database per branch Git di plan berbayar. Fiturnya jalan dan integrasinya enak sama GitHub, tapi masih lebih muda dan arahnya ke preview environment, bukan merge schema production yang aman. Buat solo developer yang sesekali jalanin migration pakai Supabase CLI, jujur aja, dua pendekatan itu sama-sama cukup.

Mana yang Bisa Scale Lebih Jauh?

PlanetScale punya plafon lebih tinggi. Vitess emang dibangun buat sharding MySQL secara horizontal ke banyak mesin, dan udah terbukti di skala YouTube. Menurut dokumentasi Vitess, dia menopang sistem yang ngelayanin ratusan ribu query per detik. Tambah Metal dengan storage NVMe lokal, dan PlanetScale jadi jawaban lebih kuat buat database berukuran terabyte.

Supabase nge-scale sebagaimana Postgres nge-scale, vertikal dulu, lalu pakai read replica. Itu udah nutupin mayoritas besar aplikasi nyata dengan nyaman. Tapi kalau rencana growth lo beneran ngelibatin sharding, PlanetScale platform yang merlakuin itu sebagai fitur kelas satu, bukan project migrasi di masa depan.

Also Read: MySQL Gone Away: HAProxy, Galera, dan Ghost Processes

Jadi Pilih Mana di 2026?

Pilih Supabase kalau lo solo developer, lagi bangun side project, atau pengen auth dan storage sepaket sama database. Free tier-nya bikin ide bisa gagal dengan murah, dan PostgreSQL murni ngejaga semua jalur migrasi tetap terbuka. Di sinilah gue tinggal, dan gue gak pernah nyesel sejak 2024.

Pilih PlanetScale kalau lo jalanin produk MySQL yang menghasilkan uang, tim lo sering ship schema change, atau sharding udah kelihatan di horizon. Gak adanya free tier itu filter, bukan cacat. Lo dapat workflow schema paling matang dan plafon scaling paling tinggi di pasar managed database.

Alasan yang salah buat milih salah satunya adalah fanatisme engine doang. Dengan PlanetScale nambahin Postgres dan Supabase ngematangin branching-nya, dua platform ini lagi konvergen di fitur. Yang masih misahin mereka itu filosofi. Supabase optimasi buat mulai cepat, PlanetScale optimasi buat tetap hidup di scale gede.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

PlanetScale masih punya free tier di 2026 gak?

Gak ada. PlanetScale ngehapus plan Hobby gratisnya di April 2024 dan belum balikin sampai sekarang. Harganya per instance, mulai 5 dolar per bulan buat PS-5 single node, jadi project hobi biasanya tetap lebih cocok di free tier Supabase.

Supabase beneran gratis buat project kecil?

Beneran, dengan batasan. Free tier dapat dua project, database 500 MB masing-masing, plus kuota auth dan storage yang cukup buat aplikasi kecil. Project gratis di-pause setelah seminggu gak aktif, jadi traffic sesekali udah cukup bikin dia tetap hidup.

Bisa pakai Supabase atau PlanetScale sama Cloudflare Workers gak?

Bisa dua-duanya. Supabase lewat supabase-js dan HTTP data API-nya, sementara PlanetScale nyediain serverless JavaScript driver lewat HTTP. Gak ada yang butuh koneksi TCP mentah, yang emang dibatasin di edge runtime.

PlanetScale masih MySQL doang?

Udah nggak. PlanetScale ngerilis dukungan Postgres di 2025, dan di 2026 mereka udah jual tier instance Postgres lengkap di samping produk MySQL Vitess-nya. Sisi Vitess tetap yang paling battle tested, jadi cek dulu kesetaraan fiturnya sebelum naruh workload Postgres yang kritis di sana.

Mana yang lebih gampang ditinggalin nanti?

Supabase, dari pengalaman gue. Dia PostgreSQL murni, jadi pg_dump standar bisa mindahin lo ke host Postgres mana pun. PlanetScale itu MySQL standar di level data, tapi ngegantiin workflow branching dan scaling Vitess-nya butuh kerja engineering beneran.

Kesimpulan

Verdict 2026-nya lebih simpel dari tabel fiturnya. Supabase itu titik start terbaik buat solo developer dan side project karena free tier-nya beneran, auth dan storage bawaannya ngehemat mingguan kerja, dan Postgres murni gak pernah ngunci lo. PlanetScale itu tujuan terbaik buat aplikasi MySQL yang menghasilkan uang dan butuh scale, dengan workflow schema yang belum ada tandingannya.

Gue pakai Supabase buat project sendiri dan tetap bakal milih PlanetScale buat produk MySQL ber-traffic tinggi tanpa ragu. Pilih yang cocok sama fase lo hari ini, bukan skala yang lo impikan. Database bisa dimigrasi, tapi bulan-bulan yang lo hemat buat mulai gak bisa di-refund.

Back to Blog

Related Posts

View All Posts »